Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif untuk mendeteksi keberadaan boraks dalam sampel lontong yang diambil dari sepuluh penjual di daerah Wonokromo, Surabaya. Sampel-sampel lontong dikumpulkan secara acak dan dianalisis di laboratorium farmasi menggunakan uji kolorimetri. Uji ini memanfaatkan reaksi kimia antara boraks dan bahan reagen tertentu yang menghasilkan perubahan warna, yang dapat diukur untuk mengidentifikasi adanya boraks dalam sampel.
Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode kuantitatif untuk mengukur konsentrasi boraks yang ditemukan dalam setiap sampel. Analisis dilakukan dengan teknik spektrofotometri UV-Vis untuk memastikan akurasi hasil, di mana hasil uji kemudian dibandingkan dengan standar yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menilai apakah lontong tersebut aman untuk dikonsumsi.
Hasil Penelitian Farmasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sepuluh sampel lontong yang dianalisis, empat sampel terdeteksi mengandung boraks dengan konsentrasi bervariasi antara 10 hingga 25 mg/kg. Konsentrasi ini melebihi batas aman yang ditetapkan oleh BPOM, yang menyatakan bahwa makanan tidak boleh mengandung boraks sama sekali karena berpotensi berbahaya bagi kesehatan.
Sampel yang positif mengandung boraks berasal dari beberapa penjual yang tidak menyadari bahwa penggunaan boraks sebagai pengawet dalam makanan dilarang dan berbahaya. Hasil ini menunjukkan adanya peredaran makanan yang tidak aman di pasaran, yang memerlukan tindakan lebih lanjut untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Diskusi
Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan boraks dalam lontong di daerah Wonokromo masih menjadi masalah yang perlu perhatian serius. Meskipun boraks dapat membuat lontong lebih kenyal dan tahan lama, dampak kesehatan yang ditimbulkannya sangat berbahaya. Boraks adalah bahan kimia yang seharusnya hanya digunakan dalam industri non-pangan, seperti dalam pembuatan kaca dan deterjen.
Diskusi lebih lanjut perlu dilakukan untuk mencari tahu alasan para pedagang menggunakan boraks, apakah karena ketidaktahuan atau karena alasan ekonomi. Edukasi dan penegakan hukum yang lebih ketat diperlukan untuk mencegah penggunaan boraks dalam makanan, serta untuk melindungi konsumen dari bahaya bahan kimia ini.
Implikasi Farmasi
Penelitian ini memiliki implikasi penting dalam bidang farmasi, terutama terkait pengawasan dan pengujian bahan-bahan kimia dalam makanan. Farmasis berperan penting dalam mengedukasi masyarakat dan industri pangan tentang bahaya penggunaan boraks. Selain itu, penelitian ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas laboratorium farmasi untuk melakukan uji makanan secara rutin sebagai bagian dari pengawasan keamanan pangan.
Pengembangan metode pengujian yang lebih efisien dan akurat juga diperlukan untuk membantu deteksi dini bahan berbahaya dalam makanan. Hal ini akan mendukung langkah preventif dalam melindungi kesehatan masyarakat dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.
Interaksi Obat
Boraks bukanlah bahan yang seharusnya ditemukan dalam makanan, namun jika dikonsumsi, ia dapat berinteraksi negatif dengan obat-obatan tertentu. Penggunaan boraks dalam makanan dapat mengganggu metabolisme obat di dalam tubuh, terutama bagi mereka yang mengonsumsi obat secara rutin. Boraks dapat meningkatkan risiko keracunan, terutama pada pasien dengan kondisi kesehatan tertentu seperti gangguan ginjal atau hati.
Oleh karena itu, penting bagi farmasis untuk memberikan informasi yang tepat kepada pasien mengenai risiko konsumsi makanan yang mungkin mengandung bahan kimia berbahaya seperti boraks. Ini juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap produk pangan yang beredar di pasaran untuk mencegah interaksi negatif antara bahan kimia tak diinginkan dengan obat-obatan.
Pengaruh Kesehatan
Boraks memiliki efek toksik yang serius jika dikonsumsi, terutama jika dalam jumlah besar atau dalam jangka waktu yang lama. Dampak kesehatan yang mungkin timbul meliputi gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare, serta kerusakan organ dalam seperti ginjal dan hati. Pada kasus yang lebih parah, konsumsi boraks dapat menyebabkan keracunan akut yang memerlukan penanganan medis segera.
Penggunaan boraks dalam makanan seperti lontong, meskipun dalam jumlah kecil, dapat menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan bahwa makanan yang beredar di pasaran bebas dari bahan kimia berbahaya dan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan boraks dalam lontong yang beredar di daerah Wonokromo, Surabaya, masih menjadi masalah serius. Sebagian besar sampel yang diuji terbukti mengandung boraks dalam jumlah yang melebihi batas aman, yang menandakan perlunya tindakan segera dari pihak berwenang untuk menanggulangi peredaran makanan yang tidak aman. Edukasi kepada pedagang dan pengawasan yang lebih ketat sangat diperlukan untuk mencegah penggunaan boraks dalam makanan.
Dari segi kesehatan, konsumsi boraks dalam makanan dapat menimbulkan berbagai efek negatif, termasuk keracunan dan gangguan organ dalam. Oleh karena itu, langkah preventif yang tepat harus diambil untuk melindungi masyarakat dari bahaya bahan kimia ini.
Rekomendasi
Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan agar pihak berwenang meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan bahan kimia dalam makanan, khususnya di daerah-daerah yang rawan. Edukasi kepada para pedagang mengenai bahaya penggunaan boraks dan alternatif pengawet yang lebih aman harus diperluas. Selain itu, pemerintah harus memperketat peraturan dan sanksi bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan bahan kimia dalam pangan.
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang risiko kesehatan yang terkait dengan konsumsi makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya juga penting. Kampanye publik dan program edukasi yang lebih intensif dapat membantu mengurangi permintaan terhadap produk yang tidak aman dan mendorong kebiasaan makan yang lebih sehat.